Dia hanya sepercik warna pelangi yang pernah mewarnai hidupku, mewarnai gambarku
Pelangi tak bisa terlihat lebih lama menemani di bandingkan matahari, dia hanya sekejab datang lalu menghilang.
Aku menyukai warna itu, sangat-sangat menyukainya namun apalah daya dia tak dapat kuraih dan ku simpan. Akupun sebenarnya bingung dengan perasaan ini, ini rasa atau napsu?
Keindahannya mengalihkan pandanganku dan menutup hatiku, mengeraskannya menjadi batu. Mungkinkan ini hanya napsu? Dan aku masih ragu
Dia penyemangat waktu itu, dia memberikan sebuah goresan kecil di ceritaku, dia mengajarkanku betapa pentingnya memikirkan perasaan orang lain, karna semua manusia punya hati yang tak semuanya kuat untuk di buli, di tegur di depan umum, dimarahi, disinggung dengan nada kasar tanpa filter penyaringan kata.
Manusia punya hati yang sama seperti aku. Walau nyatanya aku selalu pura-pura kuat dan tegas bersikap bodoamat dan mudah melupakan, namun ada masanya tetesan air mata tak dapat di tahan, perihnya rasa sakit hati tak dapat di pendam, ada saatnya aku menumpahkan semuanya dengan tangisan atau bahkan kemarahan yang dapat menimbulkan kebencian.
Dari mu aku belajar, untuk menyembunyikan sebuah kisah yang harus di sembunyikan, tak harus di umbar. Menegur dengan sopan tak langsung spontan mempermalukannya di depan umum.. darimu aku mulai belajar diam. Iya diam itu emas jika pada penempatan yang benar. Lebih baik diam dari pada salah berbicara.
Tuhan maha baik, membuat sebuah pertemuan menjadi pelajaran, menjadi kisah yang indah walau berujung kesedihan. Iya setiap pertemuan akan ada perpisahan, dan setelah perpisahan akan ada pertemuan kembali.. seperti itu terus menerus, di setiap kesedihan akan ada kebahagian.. iya karna semua punya antonim.
Tinggal kamu sendiri yang berfikir.
Always Husnuzon with Allah SWT.
Kamis, 10 Juni 2021
SAEN KAKEK MISTERIUS
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar